Categories
opini

Ramadan Komunal, Puasa yang Personal

Dalam artikel berjudul “Cultural Framing of Ramadan: A Linguistic Comparison of Indonesian and American Ustaz Lectures” yang ditulis oleh Raden Sasnitya dkk. (2025), terungkap bahwa praktik dan pemaknaan Ramadan tidak sepenuhnya seragam di berbagai konteks sosial. Melalui pendekatan analisis korpus terhadap ceramah ustaz di Indonesia dan Amerika, penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kata “Ramadan” merefleksikan perbedaan lingkungan budaya dan posisi sosial umat Islam. Di Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim, Ramadan lebih banyak dibingkai sebagai pengalaman kolektif dengan penekanan pada ibadah berjamaah, tradisi komunal, dan pertumbuhan spiritual bersama. Sebaliknya, dalam konteks Muslim minoritas di Amerika, Ramadan lebih sering dipahami sebagai perjalanan iman yang bersifat personal, menonjolkan perjuangan spiritual individu dan tantangan menjaga identitas keagamaan di tengah masyarakat non-Muslim. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun esensi Ramadan sebagai momentum penyucian diri dan pencarian ampunan tetap universal, orientasi pengalaman keagamaannya dapat berbeda—antara komunal dan individual sesuai dengan realitas sosial yang melingkupinya.

Pandangan saya, temuan Raden Sasnitya dkk. (2025) tersebut sangat relevan dengan karakter sosial masyarakat Indonesia yang sejak lama dikenal memiliki budaya komunal. Ramadan di Indonesia bukan sekadar ibadah individual, melainkan peristiwa sosial yang melibatkan ruang-ruang kebersamaan. Sejak awal bulan, suasana kolektif sudah terasa melalui tradisi tarhib Ramadan, kerja bakti membersihkan masjid, hingga saling bermaafan sebelum memasuki bulan suci. Selama Ramadan, praktik komunal semakin nyata. Tradisi buka puasa bersama (bukber) menjadi fenomena sosial lintas usia mulai dari keluarga besar, teman sekolah, rekan kerja, hingga komunitas masjid. Masjid-masjid menyediakan takjil gratis yang didanai secara gotong royong oleh jamaah. Kegiatan tadarus Al-Qur’an berjamaah, salat tarawih, dan i‘tikaf sepuluh malam terakhir juga memperlihatkan bahwa dimensi ibadah sering dijalankan dalam kebersamaan, bukan kesendirian.

Selain itu, ada tradisi khas daerah seperti padusan di Jawa (mandi penyucian sebelum Ramadan), meugang di Aceh (memasak dan berbagi daging), atau dugderan di Semarang yang menandai datangnya Ramadan secara kolektif. Bahkan budaya berbagi seperti zakat, infak, dan sedekah Ramadan sering dikemas dalam kegiatan sosial bersama santunan anak yatim, pembagian sembako, hingga sahur on the road. Semua contoh ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Indonesia, Ramadan bukan hanya momentum spiritual personal, tetapi juga ruang memperkuat solidaritas sosial, gotong royong, dan identitas kolektif. Inilah yang menjelaskan mengapa pengalaman Ramadan di Indonesia lebih berorientasi komunal: karena nilai kebersamaan memang telah menjadi bagian inheren dari budaya sosial masyarakatnya.

Jika dipersempit pada konteks Madura, nuansa komunal Ramadan bahkan terasa lebih kuat karena ditopang oleh kultur kekerabatan yang erat, tradisi pesantren, dan penghormatan kepada kiai. Di Madura, Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momentum sosial-keagamaan yang menghidupkan jaringan keluarga besar dan komunitas desa. Salah satu yang menonjol adalah tradisi selamatan menjelang Ramadan, di mana keluarga berkumpul, membaca doa bersama, dan berbagi makanan sebagai bentuk syukur sekaligus persiapan spiritual. Di banyak desa, masyarakat juga melakukan ziarah kubur bersama sebelum Ramadan sebagai ekspresi penghormatan kepada leluhur. Selama Ramadan, masjid dan langgar menjadi pusat aktivitas kolektif. Tradisi tadarus berjamaah, pengajian kitab di pesantren, serta salat tarawih yang dipimpin kiai atau ustaz lokal menghadirkan suasana religius yang sangat hidup. Di wilayah pesantren seperti di Sumenep, Pamekasan, atau Bangkalan, santri dan masyarakat sekitar sering terlibat dalam pengajian khusus Ramadan (ngaji pasaran), yang dihadiri tidak hanya oleh santri mukim, tetapi juga alumni dan warga sekitar.

Budaya berbagi juga sangat terasa. Pembagian takjil, zakat fitrah, dan santunan dilakukan secara gotong royong. Bahkan dalam tradisi Madura yang kuat dengan nilai bhâppa’, bhâbhu’, ghuru, rato (ayah, ibu, guru/kiai, dan pemimpin), Ramadan menjadi momentum mempererat hubungan dengan figur-figur otoritas moral tersebut misalnya dengan sowan ke kiai atau orang tua untuk meminta doa dan restu. Dengan demikian, Ramadan di Madura bukan hanya ritual ibadah personal, tetapi ruang penguatan solidaritas sosial, hierarki moral, dan identitas kolektif berbasis tradisi pesantren dan kekerabatan. Orientasi komunal ini memperlihatkan bahwa pengalaman keagamaan di Madura sangat dipengaruhi oleh struktur sosial-budaya yang menempatkan kebersamaan dan otoritas religius sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Membukan ruang refleksi

Perbedaan orientasi komunal dan individual dalam memaknai Ramadan sesungguhnya membuka ruang refleksi yang lebih dalam bagi kita. Di Indonesia termasuk di Madura Ramadan memang hadir sebagai peristiwa sosial yang meriah dan kolektif. Masjid penuh, buka puasa bersama berlangsung hampir setiap hari, takjil dibagikan di pinggir jalan, dan pengajian digelar di berbagai tempat. Semua itu memperlihatkan kuatnya budaya komunal yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Namun, di balik semarak kebersamaan itu, ada dimensi lain yang tak kalah penting: dimensi personal. Puasa pada hakikatnya adalah ibadah yang sangat privat. Ia bukan sekadar ritual sosial, melainkan latihan spiritual yang berlangsung dalam ruang batin masing-masing individu. Tidak ada manusia lain yang benar-benar bisa memastikan kualitas puasa seseorang apakah ia sungguh menahan diri, menjaga lisan, mengendalikan amarah, dan membersihkan niat selain dirinya sendiri dan Tuhan.

Di sinilah perspektif yang menekankan Ramadan sebagai perjalanan iman personal menjadi relevan. Pengalaman Muslim di masyarakat minoritas yang lebih menonjolkan aspek individual justru mengingatkan kita pada esensi terdalam puasa: kejujuran spiritual dan kesadaran diri. Puasa bukan pertunjukan sosial, bukan pula sekadar tradisi tahunan, melainkan proses sunyi yang menuntut refleksi, pengendalian diri, dan dialog batin dengan Sang Pencipta. Karena itu, menurut saya, orientasi komunal dan personal tidak seharusnya dipertentangkan. Budaya komunal memberi kita kekuatan sosial solidaritas, kepedulian, dan semangat berbagi. Sementara dimensi personal memberi kedalaman makna keikhlasan, introspeksi, dan transformasi batin. Ramadan akan kehilangan ruhnya jika hanya menjadi festival sosial tanpa perubahan diri. Sebaliknya, ia juga akan terasa kering jika dijalani tanpa sentuhan kebersamaan dan empati sosial.

Ramadan yang ideal adalah Ramadan yang menyatukan keduanya: kebersamaan yang hangat dan perjalanan batin yang jujur. Di tengah hiruk-pikuk tradisi dan agenda sosial, barangkali yang paling penting adalah memastikan bahwa puasa tetap menjadi ruang sunyi untuk memperbaiki diri sebuah relasi personal yang tulus antara manusia dan Tuhannya.**

 

**Tulisan ini telah terbit di Jawa Pos Radar Madura pada Tanggal 24 Februari 2026

 

Categories
Ebis ESY opini

Ramadan: Refleksi Aplikatif Manajemen Kehidupan

Teman-teman mari kita merenung sejenak untuk menghadapi bulan suci Ramadahan. Setiap kali Ramadhan tiba, apa yang pertama kali terlintas dalam benak kita? Target khatam Al-Qur’an? Jadwal tarawih? Atau sekadar memastikan puasa berjalan tanpa bolong? Semua itu tentu bagian penting dari ibadah. Namun pernahkah kita melihat Ramadhan bukan hanya sebagai momentum spiritual, melainkan sebagai sistem manajemen kehidupan yang utuh dan terstruktur?

Sesungguhnya, Ramadhan adalah laboratorium manajemen paling nyata. Selama kurang lebih tiga puluh hari, setiap Muslim sedang menjalankan fungsi manajemen secara lengkap, meski sering kali tanpa kesadaran teoritis. Konsep planning, organizing, actuating, dan controlling yang dirumuskan oleh George R. Terry bukan hanya berlaku dalam organisasi modern, tetapi juga tercermin dalam praktik ibadah Ramadhan. Bedanya, jika dalam organisasi objeknya adalah tim atau perusahaan, dalam Ramadhan objeknya adalah diri kita sendiri.

Segalanya dimulai dari perencanaan. Dalam konteks spiritual, perencanaan itu bernama niat. Niat bukan sekadar formalitas sebelum berpuasa, melainkan deklarasi visi personal. Rasulullah SAW menegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi bahwa niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya. Artinya, kualitas perencanaan batin menentukan kualitas tindakan lahir. Dalam bahasa manajemen modern, niat adalah blueprint. Tanpa visi yang jelas, aktivitas hanya menjadi rutinitas tanpa arah.

Ramadhan mengajarkan kita menyusun target. Berapa kali khatam Al-Qur’an? Seberapa konsisten qiyamullail? Berapa peningkatan sedekah dibanding bulan sebelumnya? Ketika target dirumuskan secara terukur, ibadah berubah dari kebiasaan menjadi strategi. Ini serupa dengan penyusunan Key Performance Indicators (KPI) dalam manajemen kinerja. Tanpa indikator, sulit mengukur capaian. Tanpa target, sulit mengevaluasi kemajuan.

Setelah perencanaan, kita memasuki tahap pengorganisasian. Organizing dalam Ramadhan terlihat pada bagaimana kita menata ulang ritme kehidupan. Pola tidur berubah karena sahur dan tarawih. Jam kerja disesuaikan. Aktivitas yang kurang produktif dikurangi agar energi dapat dialihkan pada ibadah. Dalam kondisi asupan fisik yang terbatas, efisiensi menjadi kebutuhan. Sumber daya utama waktu, energi, dan focus harus dikelola secara cermat.

Di sinilah Ramadhan melatih kita memahami prinsip alokasi sumber daya. Keterbatasan bukan alasan untuk menurunkan produktivitas, melainkan momentum untuk meningkatkan efektivitas. Kita belajar memilih mana yang prioritas, mana yang bisa ditunda, dan mana yang harus ditinggalkan. Dalam organisasi modern, kemampuan mengelola keterbatasan adalah kunci keberlanjutan. Ramadhan mengajarkan prinsip itu dalam bentuk yang sangat praktis.

Tahap berikutnya adalah penggerakan atau actuating. Inilah fase di mana rencana dan struktur diuji dalam tindakan nyata. Ramadhan melatih kepemimpinan paling mendasar: kepemimpinan atas diri sendiri. Tidak ada pengawas yang memastikan kita tidak makan atau minum saat sendirian. Kontrol sepenuhnya berada pada integritas pribadi dan kesadaran ilahiah.

Konsep ini sejalan dengan gagasan Peter F. Drucker yang menekankan pentingnya manajemen diri sebelum memimpin orang lain. Individu yang efektif adalah mereka yang memahami kekuatan, kelemahan, dan disiplin pribadinya. Puasa membentuk disiplin internal, mengendalikan emosi, menjaga lisan, dan menahan dorongan sesaat. Ini bukan sekadar latihan spiritual, tetapi latihan kepemimpinan.

Ramadhan juga menggerakkan dimensi kolektif. Tarawih berjamaah, tadarus bersama, berbagi takjil, dan aktivitas sosial menciptakan mobilisasi berbasis nilai. Di sinilah terbentuk kepemimpinan partisipatif. Setiap individu berkontribusi dalam suasana kebersamaan. Organisasi modern yang kuat bukan hanya yang memiliki sistem, tetapi juga budaya kolaboratif. Ramadhan membangun fondasi itu melalui praktik sosial yang konsisten.

Tahap terakhir adalah pengendalian atau controlling. Dalam manajemen, controlling berarti memastikan pelaksanaan sesuai rencana serta melakukan koreksi jika terjadi penyimpangan. Dalam Ramadhan, controlling hadir dalam bentuk muhasabah. Setiap malam menjadi ruang evaluasi: apakah hari ini lebih baik dari kemarin? Apakah emosi terkendali? Apakah target tercapai?

Dalam manajemen mutu dikenal konsep continuous improvement, perbaikan berkelanjutan. Ramadhan membiasakan kita melakukan evaluasi bukan karena tekanan atasan, melainkan karena kesadaran internal. Evaluasi bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk meningkatkan kualitas. Budaya refleksi ini jika diterapkan dalam organisasi akan menciptakan sistem pembelajaran yang dinamis dan adaptif. Lebih jauh, nilai Ramadhan memiliki implikasi kuat terhadap budaya organisasi. Konsep spiritual leadership yang dikembangkan oleh Louis W. Fry menunjukkan bahwa nilai spiritual mampu meningkatkan komitmen dan produktivitas. Ketika individu merasa pekerjaannya memiliki makna yang melampaui keuntungan material, motivasi intrinsik tumbuh lebih kuat.

Ramadhan juga melatih ketahanan atau resilience. Menahan lapar dan dahaga selama belasan jam bukan perkara ringan. Namun di situlah daya juang dibentuk. Dalam dunia manajemen, pemimpin yang tangguh adalah mereka yang mampu bertahan dalam tekanan tanpa kehilangan arah. Puasa melatih stabilitas emosi dan kesabaran, dua kualitas yang sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan. Yang tidak kalah penting, Ramadhan menanamkan orientasi jangka panjang. Setiap amal dilakukan dengan kesadaran akan balasan yang melampaui dimensi material dan temporal. Perspektif ini melahirkan pola pikir visioner. Pemimpin visioner tidak terjebak pada keuntungan sesaat, tetapi memikirkan dampak jangka panjang. Ramadhan menggeser orientasi dari sekadar hasil instan menuju keberlanjutan nilai.

Bayangkan jika semangat Ramadhan tidak berhenti di akhir bulan. Jika budaya perencanaan yang matang, pengelolaan waktu yang disiplin, kepemimpinan diri yang kuat, serta evaluasi rutin menjadi kebiasaan sepanjang tahun. Kita tidak hanya mencetak manajer yang kompeten secara teknis, tetapi pemimpin yang matang secara intelektual, emosional, dan spiritual. Ramadhan pada akhirnya adalah ilmu manajemen kehidupan. Ia mengajarkan bahwa sebelum mengelola organisasi, kita harus mampu mengelola diri. Sebelum menuntut kinerja orang lain, kita harus membangun integritas pribadi. Dan sebelum mengejar hasil, kita harus menata niat.

Maka mungkin inilah pesan terdalam Ramadhan: bukan sekadar menahan lapar, tetapi menata arah hidup. Bukan hanya memperbanyak ibadah, tetapi membangun sistem kehidupan yang lebih terstruktur dan bermakna. Ketika manajemen diri tertata, manajemen organisasi akan mengikuti. Dan ketika nilai spiritual menjadi fondasi, profesionalisme tidak lagi kering, melainkan bernilai, berkarakter, dan penuh keberkahan

Oleh: Abdul Bari
Mahasiswa Program Doktoral Manajemen
Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan
Dosen IAI Al-Khairat Pamekasan

Email: abdulbari8236139145@gmail.com

 

Categories
Blog Ebis ESY

Mahasiswi IAI Al-Khairat Pamekasan Raih Dua Medali Perunggu di Kompetisi Nasional

Pamekasan – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan. Linda Ayuni, mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah, berhasil meraih dua medali perunggu pada dua kompetisi nasional di bidang akademik.

Linda Ayuni meraih medali perunggu pada ajang PESONA (Pekan Sains & Olimpiade Nasional) untuk Kategori Akuntansi. Selain itu, ia juga meraih medali perunggu pada ajang KSI (Kompetisi Sains Indonesia) dalam rangka HUT Puskanas, pada Kategori Bahasa Inggris.

Capaian tersebut menunjukkan konsistensi Linda Ayuni dalam mengembangkan kemampuan lintas bidang, baik pada kompetensi keilmuan ekonomi maupun kemampuan bahasa asing.

Saat ditemui usai pengumuman hasil kompetisi, Linda Ayuni menyampaikan rasa syukur atas prestasi yang diraihnya.

“Alhamdulillah, saya bersyukur atas hasil ini. Saya tidak menyangka bisa meraih dua medali dari dua kompetisi yang berbeda. Ini menjadi pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga,” ujar Linda Ayuni.

Ia menambahkan bahwa proses persiapan dilakukan dengan belajar mandiri, latihan soal secara rutin, serta manajemen waktu yang seimbang antara perkuliahan dan persiapan lomba.

“Dukungan dari dosen dan kampus sangat membantu saya untuk tetap fokus dan percaya diri mengikuti kompetisi,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor IAI Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, M.S.I, memberikan apresiasi atas prestasi yang diraih mahasiswinya. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan semangat akademik mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan yang terus berkembang.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan memiliki daya saing di tingkat nasional, tidak hanya pada satu bidang, tetapi juga lintas disiplin ilmu,” ungkap Dr. Ali Ridho.

Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus meningkatkan kualitas akademik dan keberanian mengikuti berbagai kompetisi.

“Kampus akan terus mendorong dan mendukung mahasiswa untuk berprestasi sebagai bagian dari implementasi kampus integrasi ilmu, amal, dan akhlak,” pungkasnya.

Dengan raihan dua medali perunggu di tingkat nasional ini, IAI Al-Khairat Pamekasan kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak mahasiswa yang berprestasi, kompetitif, dan berkontribusi positif di bidang akademik. (vick)

Categories
Blog Ebis ESY

Mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan Raih Perak di Kejurprov PERTINA Jawa Timur 2026

Pamekasan – Mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan kembali menorehkan prestasi di tingkat provinsi. Sofiuddin, mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, berhasil meraih medali perak (Juara II) pada ajang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) PERTINA Jawa Timur “SLC Road To Japan” 2026.

Kejuaraan tersebut digelar pada 5–8 Februari 2026 bertempat di Fairwaynine Mall Lantai 2, Kota Surabaya, dan diikuti oleh atlet-atlet tinju terbaik dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Sofiuddin menyampaikan rasa syukur atas capaian yang diraihnya. Ia mengungkapkan bahwa hasil tersebut merupakan buah dari latihan yang konsisten serta dukungan dari berbagai pihak.

“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa memberikan hasil terbaik. Prestasi ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus berlatih dan memperbaiki kekurangan ke depannya,” ujar Sofiuddin saat ditemui usai menerima penghargaan.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan dari kampus sangat berperan dalam menjaga semangatnya sebagai mahasiswa sekaligus atlet.

“Saya berterima kasih kepada IAI Al-Khairat Pamekasan yang selalu memberi dukungan, sehingga saya bisa tetap menyeimbangkan antara akademik dan prestasi non-akademik,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor IAI Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, M.S.I, menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih mahasiswanya. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan komitmen kampus dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa secara menyeluruh.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan mampu bersaing tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga di bidang olahraga dan prestasi lainnya,” tutur Dr. Ali Ridho.

Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan bakat dan minatnya.

“Kami berharap prestasi ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus berikhtiar, berprestasi, dan membawa nama baik kampus di berbagai ajang,” pungkasnya.

Dengan raihan medali perak pada Kejurprov PERTINA Jawa Timur 2026 ini, IAI Al-Khairat Pamekasan kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus integrasi ilmu, amal, dan akhlak, serta mendukung mahasiswa untuk berprestasi di berbagai bidang.(vick)

Categories
Blog

Verifikasi LED dan LKPS, Prodi Magister PAI Pascasarjana IAI Al-Khairat Pamekasan Jalani Asesmen LAMDIK

Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana IAI Al-Khairat Pamekasan menjalani kegiatan asesmen lapangan pada tanggal 04-05 Februari 2025. Tim asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) hadir secara langsung untuk melakukan verifikasi dan klarifikasi atas dokumen yang sebelumnya telah dikirimkan oleh tim Prodi Magiter PAI.

Dua asesor yang ditugaskan oleh LAMDIK yaitu Prof. Dr. Raharjo, M.Ed.St. dari Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang sebagai asesor Pertama, dan Dr. Mohammad Agung Rokhimawan, M.Pd. dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai asesor kedua.

Kegiatan asesmen ini bertujuan untuk mencocokkan data dan informasi dalam dokumen Laporan Evaluasi Diri (LED) dan Laporan Kinerja Program Studi (LKPS) dengan kondisi nyata di lapangan, guna menilai mutu penyelenggaraan pendidikan pada program studi tersebut. Asesmen meliputi berbagai aspek, seperti sarana dan prasarana, kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan, proses pembelajaran, hingga capaian serta prestasi mahasiswa.

Kegiatan asesmen diawali dengan acara seremonial pembukaan yang berlangsung di Auditorium IAI Al-Khairat Pamekasan. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan rektorat, para ketua lembaga strategis, serta seluruh dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan Prodi Magister PAI Pascasarjana IAI Al-Khairat Pamekasan

Dalam sambutannya, Rektor IAI Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, M.S.I menyampaikan selamat datang kepada tim asesor dari LAMDIK dan berharap kegiatan asesmen lapangan ini dapat berjalan lancar. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras dalam mempersiapkan dokumen dan mendukung kelancaran kegiatan asesmen.

“Kami siap mendukung dan membantu kelancaran kegiatan ini agar dapat berjalan dengan baik. Terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh tim atas kerja kerasnya selama ini. Mohon maaf apabila ada kekurangan dalam pelaksanaan asesmen ini,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Raharjo, M.Ed.St. selaku asesor pertama menyampaikan bahwa kehadiran tim asesor bukan untuk memberikan penilaian secara langsung, melainkan melakukan proses verifikasi dan klarifikasi atas laporan yang telah disusun oleh program studi.

“Kami hadir di sini bukan untuk menilai, karena penilaian merupakan wewenang tim penilai LAMDIK. Tugas kami adalah mencocokkan data dan informasi dari laporan evaluasi diri dengan kondisi riil di lapangan,” tutur Prof. Raharjo

Setelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan langsung fasilitas kampus yang mendukung kegiatan pembelajaran. Beberapa fasilitas yang dikunjungi meliputi ruang kelas, laboratorium komputer, Perpustakaan, lalu dilanjutkan dengan sesi pemaparan dokumen LED dan LKPS oleh pihak Magiter program studi PAI. Tim asesor kemudian melakukan klarifikasi serta pendalaman data dengan melihat bukti-bukti pendukung.

Selain pengecekan dokumen, asesmen juga mencakup sesi wawancara dengan tenaga kependidikan, mahasiswa, serta para pengguna lulusan guna mendapatkan informasi tambahan mengenai proses dan hasil pendidikan di Prodi Magister PAI.