Categories
Blog Tarbiyah

Lebaran dan Seni Menghargai Perjalanan Hidup

Ramadan merupakan salah satu momentum spiritual yang begitu ditunggu oleh sebagian besar orang, setiap tahunnya. Ramadan memiliki nuansa yang sangat berbeda dari bulan-bulan lain, karena selama periode ini, aktivitas yang dilakukan sehari-hari menjadi sarat akan nilai refleksi dan transformasi diri. Selama satu bulan penuh, umat Islam menjalani proses ibadah yang kompleks. Mulai dari puasa sebagai metode pengendalian diri, lantunan dzikir dan ayat Al-Quran sebagai upaya peningkatan kualitas ibadah, hingga kuasa untuk menjaga lisan sebagai bukti upaya memperbaiki relasi dengan Tuhan maupun sesama manusia.

Memasuki penghujung Ramadan yang kini tinggal menghitung hari, umat Muslim ramai dengan giat untuk menyambut lebaran. Idulfitri seolah menjadi simbol kembalinya seluruh umat Muslim pada fitrah yang dikaruniakan Tuhan, yakni batin yang bersih dan diri yang lebih sadar akan nilai moral setelah satu bulan penuh membangun perjalanan spiritual. Idulfitri memiliki arti kemenangan, dalam hal ini sejatinya menjadi penegas bahwa seseorang mampu untuk menjaga diri dari berbagai godaan dan menumbuhkan sikap syukur, empati, serta kesadaran untuk terus memperbaiki diri ke depan.

Dalam konteks sosial, perayaan lebaran atau Idulfitri tidak lengkap tanpa adanya tradisi silaturahmi. Oleh karena itu, kunjungan antar keluarga, kerabat, dan sahabat menjadi sarana yang berfungsi untuk mempererat hubungan sosial serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan pasca Ramadan. Pada dasarnya, keberadaan tradisi ini mempunyai makna yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, silaturahmi menjadi aktivitas sosial sekaligus praktik budaya yang tujuannya adalah mengokohkan solidaritas serta keharmonisan dalam komunitas.

Namun, fenomena yang terjadi, tidak jarang dari momen silaturahmi lebaran, beberapa orang harus menahan sakit hati atas percakapan dan obrolan yang terlalu personal. Sebagian orang kurang meneguhkan empati dan kesadaran moral untuk menahan tanya tentang update pekerjaan, penghasilan, pasangan hidup, hingga pencapaian.

Lebaran yang seharusnya menjadi ruang kembali pada fitrah, justru beralih menjadi arena pertanyaan yang melelahkan. “Kamu sudah kerja di mana?”, “kamu kapan menikah?”, atau “gajinya berapa?”. Tanpa disadari, bagi sebagian orang yang sedang berjuang mencari pekerjaan, pertanyaan sederhana seperti di atas seolah menjadi pengingat atas kegagalan yang belum selesai dipulihkan. Sungguh ironi, alih-alih mengapresiasi, percakapan yang ada justru penuh ego dan luka.

Fenomena di atas, sejalan dengan konsep social comparison, di mana individu memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain. Lebaran bukan ajang untuk mempraktikkan teori ini, dan memicu tekanan psikologis dalam diri seseorang.

Dalam banyak kasus, basa-basi ini dibingkai sebagai bentuk keakraban. Akan tetapi, perlu disadari jika pertanyaan atas persoalan personal dapat menghadirkan ketidaknyamanan psikologis. Jadi, seberapa sering diri kita menyebarkan kekerasan simbolik yang dibungkus dalam tradisi keakraban?

Realitas selalu mengingatkan bahwa setiap orang tidak berdiri atas latar belakang hidup, pengalaman, serta dinamika hidup yang serupa. Tidak semua orang menghadapi lebaran dengan fase kehidupan yang sedang baik-baik saja, baik dalam hal karier, kondisi ekonomi, maupun relasi personal. Sebagian mungkin sedang berjuang menghadapi ketidakpastian hidup, pekerjaan, tekanan ekonomi, dan persoalan pribadi. Begitu juga mereka tidak selalu berkenan untuk dibicarakan secara terbuka kepada khalayak keluarga. Karena itulah, terkadang pertanyaan sederhana dapat berubah menjadi pengalaman sosial yang melahirkan trauma.

Penting bagi setiap individu, khususnya umat Muslim untuk selalu meninggikan sensitivitas sosial dalam interaksi sehari-hari. Ramadan telah pergi dan mengajarkan pengendalian diri, baik secara fisik maupun penanaman nilai-nilai etis dalam perilaku sosial. Dengan kata lain, Ramadan telah mengajarkan diri atas esensi utama dari kebijaksanaan dalam bersikap, memilih Bahasa, hingga tata krama dalam berucap.

Jika nilai etis telah benar-benar diinternalisasi dalam diri, maka idealnya semangat Ramadan dan perjalanan spiritual yang lebih baik dapat tercermin dalam perilaku sosial setelah bulan suci tersebut berpamitan.

Lebaran dan kemenangan pasca Ramadan adalah momen terbentuknya ruang sosial yang menyemaikan rasa syukur, indahnya kebersamaan, dan bukan ajang untuk melegalkan praktik perbandingan sosial. Sebagai pribadi yang menang, cukuplah untuk menghadirkan perspektif sederhana, tanpa mengukur bahkan mempertontonkan keberhasilan yang bersifat material semata.

Perjalanan hidup setiap individu tidak akan memiliki ritme dan dinamika yang sama. Sebagian orang berhasil mencapai berbagai harapannya dalam waktu yang singkat, di sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang menjalani proses belajar lebih panjang untuk mencapai titik temu tujuan yang ditetapkan.  Seluruh kondisi ini adalah bagian alami dari kompleksitas kehidupan manusia. Oleh karena itu, tumbuh sebagai umat Muslim yang menghargai perjalanan hidup orang lain merupakan bentuk kedewasaan sosial yang seharusnya ditanamkan sebelum, sejak bahkan setelah Ramadan.

Menghargai perjalanan hidup orang lain tidak selalu melibatkan tindakan yang besar, tindakan ini dapat dipraktikkan dengan hadirnya hal-hal yang terlihat sederhana, seperti menjaga ucapan, menghindarkan orang lain dari pertanyaan yang menekan secara psikologis, serta memilih untuk mengutamakan silaturahmi melalui percakapan yang hangat dan doa atas pencapaian lebih baik ke depannya. Selain itu, penting untuk senantiasa mengakrabkan diri dengan rasa syukur. Syukur menjadi bukti bahwa sebagai umat Muslim, diri mampu menerima garis kehidupan, melaluinya dengan kesadaran dan kerendahan hati.

Jadi, Ramadan akan semakin berarti karena keberadaannya mampu membentuk setiap umat Muslim sebagai manusia yang sabar, rendah hati, dan memiliki kepekaan sosial di lingkungan sekitar. Dengan transformasi diri yang terjadi, maka sejatinya Ramadan dan lebaran memberikan esensi dari kemenangan spiritual yang patut untuk dirayakan. Pada akhirnya, kemenangan di hari lebaran sejatinya bukan tentang apa yang kita capai, melainkan tentang bagaimana kita menjaga lisan dan memanusiakan sesama.**

**Oleh: Muhyatun, S.Sos., M.A (Dosen Fakultas Tarbiyah Program Studi Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan)

Categories
opini Tarbiyah

Puasa dan Self-Regulation dalam Membentuk Cara Berpikir Ilmiah

Pamekasan, Ramadhan sering dipahami sebagai ibadah yang berorientasi pada dimensi spiritual semata yaitu menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, sebagai dosen yang mengampu Mata Kuliah Pembelajaran IPA sekaligus mahasiswa S3 Pendidikan Sains, saya melihat puasa lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ia adalah proses pendidikan karakter yang sistematis, terutama dalam melatih pengendalian diri (self regulation), yang justru menjadi fondasi penting dalam membangun cara berpikir ilmiah.

Dalam pengalaman saya mengajar Pembelajaran IPA, sering kali saya mendapati mahasiswa lebih berorientasi pada hasil akhir dibandingkan proses ilmiah itu sendiri. Ketika melakukan simulasi praktikum atau merancang pembelajaran berbasis eksperimen, sebagian mahasiswa ingin segera mengetahui jawaban benar tanpa melalui tahapan pengamatan yang teliti. Mereka cenderung tergesa-gesa menyimpulkan sebelum data benar-benar dianalisis secara mendalam. Padahal, dalam sains, proses adalah inti dari pembelajaran.

Berpikir ilmiah bukan sekadar kemampuan memahami teori atau menghafal konsep. Ia mencakup sikap objektif, kesabaran dalam menguji hipotesis, ketelitian dalam mengumpulkan data, serta keberanian merevisi kesimpulan ketika ditemukan bukti baru. Semua itu membutuhkan pengendalian diri. Tanpa kemampuan mengatur dorongan untuk cepat selesai atau cepat benar, proses ilmiah dapat kehilangan maknanya.

Di sinilah saya menemukan relevansi mendalam antara puasa dan pendidikan sains. Puasa adalah latihan pengendalian diri yang nyata dan berulang. Setiap hari selama Ramadhan, seseorang melatih dirinya untuk menahan keinginan yang sebenarnya sah dilakukan di luar waktu puasa. Latihan ini melibatkan kesadaran internal, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan eksternal. Tidak ada pengawas yang memastikan seseorang benar-benar berpuasa selain dirinya sendiri dan Tuhan. Di situlah self regulation dibangun.

Dalam perspektif pendidikan, self regulation merujuk pada kemampuan individu untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilaku dalam mencapai tujuan tertentu. Mahasiswa yang memiliki self regulation yang baik mampu merencanakan strategi belajar, memantau kemajuan, dan mengevaluasi hasilnya secara mandiri. Dalam konteks pembelajaran IPA, kemampuan ini menjadi kunci untuk mengembangkan cara berpikir ilmiah yang matang.

Sebagai mahasiswa doktoral pendidikan sains, saya semakin menyadari bahwa proses penelitian ilmiah sangat bergantung pada pengendalian diri. Ketika menyusun rancangan penelitian, saya dituntut untuk tidak tergesa-gesa menentukan kesimpulan. Dalam analisis data, saya harus objektif meskipun hasilnya tidak selalu sesuai dengan hipotesis awal. Proses ini menuntut kesabaran, ketekunan, dan kejujuran yang merupakan nilai-nilai yang juga dilatih secara intensif dalam ibadah puasa.

Salah satu tantangan terbesar dalam berpikir ilmiah adalah mengendalikan bias pribadi. Setiap peneliti memiliki harapan terhadap hasil penelitiannya. Namun, sains menuntut objektivitas. Tanpa pengendalian diri, seseorang dapat dengan mudah memilih data yang mendukung pendapatnya dan mengabaikan data yang bertentangan. Puasa melatih kita untuk menahan dorongan spontan dan mengendalikan keinginan. Kemampuan ini sangat relevan dalam menjaga integritas ilmiah.

Selain itu, puasa mengajarkan kesabaran terhadap proses. Dari fajar hingga maghrib, seseorang menjalani latihan kontinuitas dan konsistensi. Tidak ada jalan pintas. Dalam pendidikan sains, proses eksperimen juga menuntut kesabaran yang sama. Percobaan bisa gagal, pengamatan bisa keliru, dan hipotesis bisa tidak terbukti. Tanpa kesabaran, mahasiswa mudah frustrasi dan kehilangan motivasi. Di sinilah nilai puasa memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya bertahan dalam proses.

Dalam kelas Pembelajaran IPA, saya mulai merefleksikan bagaimana nilai pengendalian diri dapat diintegrasikan dalam strategi pembelajaran. Misalnya, dengan memberi ruang lebih bagi mahasiswa untuk melakukan observasi mendalam, bukan sekadar mencari jawaban cepat. Saya juga mendorong mereka untuk melakukan refleksi setelah praktikum, mengevaluasi apa yang telah dipelajari dan apa yang perlu diperbaiki. Refleksi ini selaras dengan semangat muhasabah yang menjadi bagian dari Ramadhan.

Lebih jauh, puasa juga membangun disiplin waktu. Ritme sahur, berbuka, dan ibadah malam membentuk pola hidup yang teratur. Disiplin ini sangat penting dalam penelitian ilmiah yang memerlukan perencanaan sistematis dan konsistensi kerja. Berpikir ilmiah bukan aktivitas spontan, melainkan proses terstruktur yang membutuhkan komitmen jangka panjang.

Di tengah era digital yang serba cepat, budaya instan semakin menguat. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, jawaban tersedia hanya dengan satu klik. Tantangannya adalah bagaimana membangun generasi yang tidak hanya cepat mengakses informasi, tetapi juga mampu mengolahnya secara kritis dan bertanggung jawab. Self regulation menjadi kunci agar mahasiswa tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga pemikir yang reflektif.

Ramadhan menghadirkan momentum penting untuk merefleksikan kembali arah pendidikan sains. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan kedewasaan moral. Tanpa pengendalian diri, sains berisiko kehilangan orientasi etisnya. Sebaliknya, ketika self regulation menjadi bagian dari proses pembelajaran, maka sains akan berkembang sebagai sarana kemaslahatan.

Bagi saya pribadi, puasa bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga madrasah pembentukan karakter ilmiah. Ia mengajarkan bahwa proses lebih penting daripada sekadar hasil, bahwa kejujuran lebih utama daripada sekadar prestasi, dan bahwa kesabaran adalah syarat bagi lahirnya pemahaman yang mendalam. Nilai-nilai ini sejalan dengan hakikat pendidikan sains yang bertujuan membentuk individu yang mampu berpikir rasional sekaligus bertanggung jawab.

Pada akhirnya, puasa menunjukkan bahwa spiritualitas dan rasionalitas bukanlah dua wilayah yang bertentangan. Justru melalui latihan pengendalian diri, keduanya dapat saling menguatkan. Jika nilai self regulation yang dilatih selama Ramadhan benar-benar diinternalisasikan dalam pendidikan sains, maka kita tidak hanya melahirkan peserta didik yang cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara moral. Di sanalah puasa menemukan relevansinya sebagai fondasi cara berpikir ilmiah yang berintegritas dan bermartabat.**

**Oleh : Fitriyah Ika Astutik, M.Pd (Dosen Fakultas Tarbiyah IAI Al-Khairat Pamekasan)

Categories
Blog Ebis ESY Tarbiyah

Dua Mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan Raih Juara dalam Lomba Vloger Museum Mandhilaras

Pamekasan – Dua mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan berhasil meraih juara dalam ajang Lomba Vloger Museum Mandhilaras Pamekasan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pamekasan.
Acara ini digelar pada 8 Agustus 2025, sementara penyerahan hadiah dilakukan pada 10 Oktober 2025.

Mahasiswa yang berhasil meraih prestasi tersebut adalah Ayu Andira, mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Linda Ayuni, mahasiswi Ekonomi Syariah.
Keduanya menampilkan karya vlog yang mengangkat nilai-nilai sejarah dan budaya lokal melalui pendekatan kreatif dan edukatif.

Dalam keterangannya, Ayu Andira mengungkapkan rasa haru dan syukur atas pencapaian tersebut.

“Saya merasakan campuran emosi yang tak terlukiskan. Rasa syukur, bangga, dan bahagia memenuhi hati saya. Namun di balik itu semua, keberhasilan ini tidak luput dari doa orang tua, dukungan teman, dan sahabat. Ini jadi awal dari perjalanan baru. Saya berharap pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi diri,” ujar Ayu.

Sementara itu, Linda Ayuni juga menyampaikan rasa syukurnya karena ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba sejak kuliah.

“Alhamdulillah, benar-benar bersyukur karena ini baru pertama kalinya saya mengikuti lomba sejak kuliah, dan tidak menyangka bisa menang,” kata Linda.

Rektor IAI Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, M.S.I., memberikan apresiasi atas pencapaian kedua mahasiswa tersebut.

“Kami mengapresiasi capaian dua mahasiswa yang berhasil meraih juara dalam lomba bloger Museum Mandhilaras. Prestasi ini menunjukkan semangat belajar dan kepedulian mereka terhadap budaya lokal. Semoga menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya,” ujarnya.

Prestasi ini diharapkan menjadi dorongan bagi mahasiswa IAI Al-Khairat lainnya untuk terus aktif berpartisipasi dalam kegiatan kreatif, edukatif, dan pelestarian budaya lokal di Kabupaten Pamekasan.