Categories
Blog Ebis ESY Tarbiyah Ushuluddin

258 Peserta Ikuti ICIT 2026 Secara Daring, Soroti Literasi Keuangan Syariah

Pamekasan – Konferensi internasional The 2nd International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026 sukses diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Selasa, 5 Mei 2026. Mengusung tema Islamic Financial Literacy for Sustainable Development, kegiatan ini diikuti sebanyak 258 peserta dari berbagai negara.

Konferensi ini merupakan kolaborasi antara Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan dan Aflatoun International bersama sejumlah mitra lainnya.

Konferensi ini menghadirkan sejumlah keynote speaker dari berbagai negara dan institusi, yakni: Dr. Khairunnisa Musari, Associate International dari Iranian Association of Islamic Finance (IAIF), Indonesia. Dr. Ghadeer Ahmad Khalil, Assistant Professor, Zarqa Private University, Yordania. Zunara Nauman, Education Technical Specialist, Aflatoun International. Nancy Abu Hanyyaneh, Regional Program Manager Aflatoun untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sambutan pembuka disampaikan CEO Aflatoun International, Roeland Monasch. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa tantangan terbesar dalam pendidikan keuangan saat ini bukan hanya soal akses, tetapi juga bagaimana pendidikan tersebut relevan dengan latar belakang sosial, budaya, dan nilai yang dianut peserta didik.

Menurut Roeland, pendekatan inklusif menjadi kunci agar pendidikan benar-benar berdampak luas dan berkelanjutan.

“Agar pendidikan sosial dan keuangan benar-benar bersifat transformatif, maka pendidikan tersebut harus inklusif. Inklusivitas berarti mampu mengakomodasi nilai-nilai, keyakinan, serta berbagai situasi sosial, ekonomi, dan budaya yang spesifik,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menyoroti realitas yang dihadapi generasi muda, khususnya di komunitas Muslim, yang membutuhkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya terbuka, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai yang mereka yakini.

“Kami menyadari bahwa bagi jutaan anak muda—terutama di komunitas Muslim—mereka membutuhkan lebih dari sekadar akses. Mereka juga membutuhkan keselarasan dengan nilai-nilai yang mereka yakini,” ungkapnya.

Dalam konteks itu, penyelenggaraan ICIT dinilai menjadi contoh konkret bagaimana pendekatan tersebut bisa diwujudkan dalam praktik.

“Acara ICIT hari ini merupakan contoh nyata bagaimana kita dapat menyelaraskan alat-alat keuangan praktis dengan prinsip dan keyakinan etis,” pungkasnya.

Selannjutnya, Rektor Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, dalam sambutannya menekankan bahwa konferensi ini tidak hanya menjadi ajang akademik, tetapi juga ruang strategis untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi lintas negara dalam pengembangan keuangan syariah.

Menurutnya, terselenggaranya kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama dalam mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman di tingkat global.

“Kami bersyukur konferensi internasional di bidang keuangan syariah ini dapat terselenggara dengan lancar. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi strategis sekaligus wadah penting untuk berbagi pengetahuan, hasil riset, dan pengalaman di tingkat global,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mengembangkan keuangan syariah tidak hanya sebagai disiplin ilmu, tetapi juga sebagai praktik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“IAI Al-Khairat Pamekasan berkomitmen mendukung pengembangan keuangan syariah melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Keuangan syariah bukan hanya kajian akademik, tetapi juga sistem praktis yang menjunjung tinggi prinsip keadilan, transparansi, dan kesejahteraan sosial,” ungkapnya.

Selain itu, penguatan literasi keuangan syariah di kalangan mahasiswa juga menjadi perhatian utama, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.

“Melalui berbagai program akademik dan kolaborasi, kami berupaya membekali mahasiswa dengan pemahaman teoritis sekaligus keterampilan praktis di bidang keuangan syariah,” pungkasnya.

Pada sesi penutupan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan, Dr. H. Mawardi, menyoroti pentingnya peran lembaga pendidikan Islam dalam membangun pemahaman ekonomi syariah yang komprehensif di kalangan generasi muda.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang internalisasi nilai-nilai ekonomi Islam yang berkeadilan dan berorientasi pada kesejahteraan.

“Lembaga pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman generasi muda terhadap prinsip ekonomi Islam yang menjunjung keadilan, transparansi, dan kesejahteraan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa penguatan literasi keuangan syariah perlu diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan pendidikan.

“Penguatan literasi keuangan syariah tidak boleh berhenti pada aspek teoritis, tetapi harus diwujudkan dalam praktik di lingkungan pendidikan,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, ia berharap hasil konferensi ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengambilan kebijakan di masa depan.

“Berbagai perspektif, hasil riset, serta rekomendasi dari konferensi ini dapat menjadi masukan berharga bagi Kementerian Agama,” pungkasnya. (vick)