Categories
Blog

ICIT 2026 Libatkan 105 Penulis dari Berbagai Negara, Bahas Literasi Keuangan Syariah

Pamekasan – The 2nd International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026 yang mengusung tema “Islamic Financial Literacy for Sustainable Development” sukses digelar pada Selasa, 5 Mei 2026 secara daring melalui Zoom. Kegiatan ini menghadirkan pembicara internasional serta ratusan peserta dari berbagai negara.

Konferensi ini dibuka dengan sambutan dari Rektor IAI Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, M.S.I, serta Roeland Monasch selaku CEO Aflatoun International. Acara juga menghadirkan MC Ya-Ling Chao selaku Aflatoun Regional Program Manager – Asia-Pasific dan dimoderatori oleh Dr. Clarashinta Canggih, S.E., CIFP, Assisten Professor at Islamic Economics Program.

Sejumlah keynote speaker turut meramaikan forum ilmiah ini, di antaranya : Dr. Khairunnisa Musari, Associate International dari Iranian Association of Islamic Finance (IAIF), Indonesia. Dr. Ghadeer Ahmad Khalil, Assistant Professor, Zarqa Private University, Yordania. Zunara Nauman, Education Technical Specialist, Aflatoun International. Nancy Abu Hanyyaneh, Regional Program Manager Aflatoun untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Ketua Panitia, Dr. Aang Kunaifi, M.E.I, menyampaikan bahwa antusiasme peserta dalam konferensi ini sangat tinggi. Para peserta mengikuti rangkaian acara sejak pukul 10.00 hingga 16.00 WIB dengan penuh semangat.

“Antusiasme para peserta luar biasa. Mereka mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir dengan sangat aktif,” ujarnya.

Sebagai host, LekDis Nusantara yang merupakan NGO underbouw Aflatoun International menyampaikan apresiasi atas kesuksesan acara ini. Suryadi selaku perwakilan menyebut ICIT 2026 sebagai ajang kolaborasi global yang membanggakan.

“Kami sangat mengapresiasi kesuksesan acara ini dan berharap dapat terus bekerja sama dalam penyelenggaraan ICIT berikutnya,” katanya.

Senada dengan itu, Sekretaris IAEI DPW Jawa Timur, Khairunnisa Musari yang juga menjadi keynote speaker, mengaku bahagia dapat terlibat dalam kegiatan ini. Menurutnya, ICIT 2026 tidak hanya menjadi ruang berbagi ilmu, tetapi juga memperkuat jejaring internasional.

“Selain berbagi dengan pembicara dan peserta internasional terkait keuangan syariah, event ini juga menjadi sarana silaturahmi dan penyamaan visi di bidang ekonomi Islam. Kami siap untuk terus berkolaborasi dalam event selanjutnya bersama Al-Khairat dan Aflatoun,” ungkap Musari.

Dalam sesi paralel, panitia mencatat terdapat 105 penulis yang terlibat dengan total 65 paper yang dipresentasikan dalam empat ruang berbeda. Peserta berasal dari berbagai negara, termasuk Pakistan, Bangladesh, dan Malaysia.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia juga memberikan penghargaan kepada para peserta terbaik, meliputi tiga kategori Best Presenter, tiga kategori Best Paper, dan tiga tim penulis kategori Best Engagement. Nama-nama pemenang akan diumumkan secara resmi pada Jumat, 8 Mei 2026 melalui website IAI Al-Khairat.

Konferensi ini juga membuka peluang publikasi bagi paper yang diterima di sejumlah jurnal bereputasi, seperti Sinta 2 hingga jurnal internasional. (vick)

Categories
Blog Ebis ESY Tarbiyah Ushuluddin

258 Peserta Ikuti ICIT 2026 Secara Daring, Soroti Literasi Keuangan Syariah

Pamekasan – Konferensi internasional The 2nd International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026 sukses diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Selasa, 5 Mei 2026. Mengusung tema Islamic Financial Literacy for Sustainable Development, kegiatan ini diikuti sebanyak 258 peserta dari berbagai negara.

Konferensi ini merupakan kolaborasi antara Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan dan Aflatoun International bersama sejumlah mitra lainnya.

Konferensi ini menghadirkan sejumlah keynote speaker dari berbagai negara dan institusi, yakni: Dr. Khairunnisa Musari, Associate International dari Iranian Association of Islamic Finance (IAIF), Indonesia. Dr. Ghadeer Ahmad Khalil, Assistant Professor, Zarqa Private University, Yordania. Zunara Nauman, Education Technical Specialist, Aflatoun International. Nancy Abu Hanyyaneh, Regional Program Manager Aflatoun untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sambutan pembuka disampaikan CEO Aflatoun International, Roeland Monasch. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa tantangan terbesar dalam pendidikan keuangan saat ini bukan hanya soal akses, tetapi juga bagaimana pendidikan tersebut relevan dengan latar belakang sosial, budaya, dan nilai yang dianut peserta didik.

Menurut Roeland, pendekatan inklusif menjadi kunci agar pendidikan benar-benar berdampak luas dan berkelanjutan.

“Agar pendidikan sosial dan keuangan benar-benar bersifat transformatif, maka pendidikan tersebut harus inklusif. Inklusivitas berarti mampu mengakomodasi nilai-nilai, keyakinan, serta berbagai situasi sosial, ekonomi, dan budaya yang spesifik,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menyoroti realitas yang dihadapi generasi muda, khususnya di komunitas Muslim, yang membutuhkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya terbuka, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai yang mereka yakini.

“Kami menyadari bahwa bagi jutaan anak muda—terutama di komunitas Muslim—mereka membutuhkan lebih dari sekadar akses. Mereka juga membutuhkan keselarasan dengan nilai-nilai yang mereka yakini,” ungkapnya.

Dalam konteks itu, penyelenggaraan ICIT dinilai menjadi contoh konkret bagaimana pendekatan tersebut bisa diwujudkan dalam praktik.

“Acara ICIT hari ini merupakan contoh nyata bagaimana kita dapat menyelaraskan alat-alat keuangan praktis dengan prinsip dan keyakinan etis,” pungkasnya.

Selannjutnya, Rektor Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, dalam sambutannya menekankan bahwa konferensi ini tidak hanya menjadi ajang akademik, tetapi juga ruang strategis untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi lintas negara dalam pengembangan keuangan syariah.

Menurutnya, terselenggaranya kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama dalam mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman di tingkat global.

“Kami bersyukur konferensi internasional di bidang keuangan syariah ini dapat terselenggara dengan lancar. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi strategis sekaligus wadah penting untuk berbagi pengetahuan, hasil riset, dan pengalaman di tingkat global,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mengembangkan keuangan syariah tidak hanya sebagai disiplin ilmu, tetapi juga sebagai praktik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“IAI Al-Khairat Pamekasan berkomitmen mendukung pengembangan keuangan syariah melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Keuangan syariah bukan hanya kajian akademik, tetapi juga sistem praktis yang menjunjung tinggi prinsip keadilan, transparansi, dan kesejahteraan sosial,” ungkapnya.

Selain itu, penguatan literasi keuangan syariah di kalangan mahasiswa juga menjadi perhatian utama, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.

“Melalui berbagai program akademik dan kolaborasi, kami berupaya membekali mahasiswa dengan pemahaman teoritis sekaligus keterampilan praktis di bidang keuangan syariah,” pungkasnya.

Pada sesi penutupan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan, Dr. H. Mawardi, menyoroti pentingnya peran lembaga pendidikan Islam dalam membangun pemahaman ekonomi syariah yang komprehensif di kalangan generasi muda.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang internalisasi nilai-nilai ekonomi Islam yang berkeadilan dan berorientasi pada kesejahteraan.

“Lembaga pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman generasi muda terhadap prinsip ekonomi Islam yang menjunjung keadilan, transparansi, dan kesejahteraan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa penguatan literasi keuangan syariah perlu diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan pendidikan.

“Penguatan literasi keuangan syariah tidak boleh berhenti pada aspek teoritis, tetapi harus diwujudkan dalam praktik di lingkungan pendidikan,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, ia berharap hasil konferensi ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengambilan kebijakan di masa depan.

“Berbagai perspektif, hasil riset, serta rekomendasi dari konferensi ini dapat menjadi masukan berharga bagi Kementerian Agama,” pungkasnya. (vick)

 

Categories
Blog Informasi

Pengumuman Hasil Tes Gelombang I PMB 2026/2027

PamekasanInstitut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan resmi mengumumkan hasil seleksi calon mahasiswa baru Gelombang I untuk Tahun Akademik 2026/2027. Pengumuman tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Rektor Nomor A/076.010IAI.AK/IV/2026 tentang Penetapan Kelulusan Peserta Tes.

Dalam keputusan tersebut, sejumlah peserta dinyatakan lulus seleksi Gelombang I. Daftar nama peserta yang lolos tercantum dalam lampiran surat keputusan.

Pihak kampus menyampaikan, calon mahasiswa yang dinyatakan lulus diwajibkan untuk segera melakukan proses herregistrasi. Proses tersebut dilakukan melalui BAUK dengan pembayaran di Bank Jatim Syariah.

Adapun jadwal herregistrasi dibuka mulai 28 April hingga 30 Mei 2026. Peserta diimbau untuk tidak melewati batas waktu yang telah ditentukan.

Berikut nama-nama yang lulus tes Gelombang I PMB 2026/2027. <Klik disini>

Categories
Blog Ushuluddin

Mahasiswi KIP IAI Al-Khairat Pamekasan Raih Juara IV MHQ Nasional

Pamekasan – Mahasiswi IAI Al-Khairat Pamekasan, Nur Aini, meraih Juara IV dalam ajang Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) Battle 15 Juz tingkat nasional yang digelar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 21 April 2026.

Nur Aini merupakan mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sekaligus penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Ia bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam cabang hafalan Al-Qur’an 15 juz.

Dalam keterangannya, Nur Aini menyampaikan rasa syukur atas hasil yang diraih.
“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa menyelesaikan perlombaan dengan baik. Ini menjadi pengalaman yang berharga bagi saya untuk terus belajar dan memperbaiki diri,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa persiapan dilakukan secara bertahap dengan menjaga konsistensi murojaah (mengulang hafalan) setiap hari.

Rektor IAI Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, M.S.I., mengatakan capaian tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan mahasiswa di kampus.

“Kami mengapresiasi usaha mahasiswa yang telah mengikuti kompetisi ini. Semoga hasil ini bisa menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik dalam bidang akademik maupun keagamaan,” katanya.

Pihak kampus berharap pengalaman yang diperoleh dalam ajang tersebut dapat mendorong mahasiswa lain untuk aktif mengikuti kegiatan serupa di tingkat regional maupun nasional.

Categories
opini Tarbiyah

Lebaran dan Seni Menghargai Perjalanan Hidup

Ramadan merupakan salah satu momentum spiritual yang begitu ditunggu oleh sebagian besar orang, setiap tahunnya. Ramadan memiliki nuansa yang sangat berbeda dari bulan-bulan lain, karena selama periode ini, aktivitas yang dilakukan sehari-hari menjadi sarat akan nilai refleksi dan transformasi diri. Selama satu bulan penuh, umat Islam menjalani proses ibadah yang kompleks. Mulai dari puasa sebagai metode pengendalian diri, lantunan dzikir dan ayat Al-Quran sebagai upaya peningkatan kualitas ibadah, hingga kuasa untuk menjaga lisan sebagai bukti upaya memperbaiki relasi dengan Tuhan maupun sesama manusia.

Memasuki penghujung Ramadan yang kini tinggal menghitung hari, umat Muslim ramai dengan giat untuk menyambut lebaran. Idulfitri seolah menjadi simbol kembalinya seluruh umat Muslim pada fitrah yang dikaruniakan Tuhan, yakni batin yang bersih dan diri yang lebih sadar akan nilai moral setelah satu bulan penuh membangun perjalanan spiritual. Idulfitri memiliki arti kemenangan, dalam hal ini sejatinya menjadi penegas bahwa seseorang mampu untuk menjaga diri dari berbagai godaan dan menumbuhkan sikap syukur, empati, serta kesadaran untuk terus memperbaiki diri ke depan.

Dalam konteks sosial, perayaan lebaran atau Idulfitri tidak lengkap tanpa adanya tradisi silaturahmi. Oleh karena itu, kunjungan antar keluarga, kerabat, dan sahabat menjadi sarana yang berfungsi untuk mempererat hubungan sosial serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan pasca Ramadan. Pada dasarnya, keberadaan tradisi ini mempunyai makna yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, silaturahmi menjadi aktivitas sosial sekaligus praktik budaya yang tujuannya adalah mengokohkan solidaritas serta keharmonisan dalam komunitas.

Namun, fenomena yang terjadi, tidak jarang dari momen silaturahmi lebaran, beberapa orang harus menahan sakit hati atas percakapan dan obrolan yang terlalu personal. Sebagian orang kurang meneguhkan empati dan kesadaran moral untuk menahan tanya tentang update pekerjaan, penghasilan, pasangan hidup, hingga pencapaian.

Lebaran yang seharusnya menjadi ruang kembali pada fitrah, justru beralih menjadi arena pertanyaan yang melelahkan. “Kamu sudah kerja di mana?”, “kamu kapan menikah?”, atau “gajinya berapa?”. Tanpa disadari, bagi sebagian orang yang sedang berjuang mencari pekerjaan, pertanyaan sederhana seperti di atas seolah menjadi pengingat atas kegagalan yang belum selesai dipulihkan. Sungguh ironi, alih-alih mengapresiasi, percakapan yang ada justru penuh ego dan luka.

Fenomena di atas, sejalan dengan konsep social comparison, di mana individu memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain. Lebaran bukan ajang untuk mempraktikkan teori ini, dan memicu tekanan psikologis dalam diri seseorang.

Dalam banyak kasus, basa-basi ini dibingkai sebagai bentuk keakraban. Akan tetapi, perlu disadari jika pertanyaan atas persoalan personal dapat menghadirkan ketidaknyamanan psikologis. Jadi, seberapa sering diri kita menyebarkan kekerasan simbolik yang dibungkus dalam tradisi keakraban?

Realitas selalu mengingatkan bahwa setiap orang tidak berdiri atas latar belakang hidup, pengalaman, serta dinamika hidup yang serupa. Tidak semua orang menghadapi lebaran dengan fase kehidupan yang sedang baik-baik saja, baik dalam hal karier, kondisi ekonomi, maupun relasi personal. Sebagian mungkin sedang berjuang menghadapi ketidakpastian hidup, pekerjaan, tekanan ekonomi, dan persoalan pribadi. Begitu juga mereka tidak selalu berkenan untuk dibicarakan secara terbuka kepada khalayak keluarga. Karena itulah, terkadang pertanyaan sederhana dapat berubah menjadi pengalaman sosial yang melahirkan trauma.

Penting bagi setiap individu, khususnya umat Muslim untuk selalu meninggikan sensitivitas sosial dalam interaksi sehari-hari. Ramadan telah pergi dan mengajarkan pengendalian diri, baik secara fisik maupun penanaman nilai-nilai etis dalam perilaku sosial. Dengan kata lain, Ramadan telah mengajarkan diri atas esensi utama dari kebijaksanaan dalam bersikap, memilih Bahasa, hingga tata krama dalam berucap.

Jika nilai etis telah benar-benar diinternalisasi dalam diri, maka idealnya semangat Ramadan dan perjalanan spiritual yang lebih baik dapat tercermin dalam perilaku sosial setelah bulan suci tersebut berpamitan.

Lebaran dan kemenangan pasca Ramadan adalah momen terbentuknya ruang sosial yang menyemaikan rasa syukur, indahnya kebersamaan, dan bukan ajang untuk melegalkan praktik perbandingan sosial. Sebagai pribadi yang menang, cukuplah untuk menghadirkan perspektif sederhana, tanpa mengukur bahkan mempertontonkan keberhasilan yang bersifat material semata.

Perjalanan hidup setiap individu tidak akan memiliki ritme dan dinamika yang sama. Sebagian orang berhasil mencapai berbagai harapannya dalam waktu yang singkat, di sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang menjalani proses belajar lebih panjang untuk mencapai titik temu tujuan yang ditetapkan.  Seluruh kondisi ini adalah bagian alami dari kompleksitas kehidupan manusia. Oleh karena itu, tumbuh sebagai umat Muslim yang menghargai perjalanan hidup orang lain merupakan bentuk kedewasaan sosial yang seharusnya ditanamkan sebelum, sejak bahkan setelah Ramadan.

Menghargai perjalanan hidup orang lain tidak selalu melibatkan tindakan yang besar, tindakan ini dapat dipraktikkan dengan hadirnya hal-hal yang terlihat sederhana, seperti menjaga ucapan, menghindarkan orang lain dari pertanyaan yang menekan secara psikologis, serta memilih untuk mengutamakan silaturahmi melalui percakapan yang hangat dan doa atas pencapaian lebih baik ke depannya. Selain itu, penting untuk senantiasa mengakrabkan diri dengan rasa syukur. Syukur menjadi bukti bahwa sebagai umat Muslim, diri mampu menerima garis kehidupan, melaluinya dengan kesadaran dan kerendahan hati.

Jadi, Ramadan akan semakin berarti karena keberadaannya mampu membentuk setiap umat Muslim sebagai manusia yang sabar, rendah hati, dan memiliki kepekaan sosial di lingkungan sekitar. Dengan transformasi diri yang terjadi, maka sejatinya Ramadan dan lebaran memberikan esensi dari kemenangan spiritual yang patut untuk dirayakan. Pada akhirnya, kemenangan di hari lebaran sejatinya bukan tentang apa yang kita capai, melainkan tentang bagaimana kita menjaga lisan dan memanusiakan sesama.**

**Oleh: Muhyatun, S.Sos., M.A (Dosen Fakultas Tarbiyah Program Studi Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan)

Categories
Blog

Pengumuman Nominee Presenter ICIT 2026 Resmi Dirilis

Pamekasan, 16 April 2026 – Panitia The 2nd International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026 secara resmi mengumumkan daftar nominee presenter yang telah lolos seleksi abstrak. Konferensi internasional ini mengangkat tema “Islamic Financial Literacy for Sustainable Development” dan menjadi ajang akademik bergengsi bagi para peneliti serta akademisi dari berbagai institusi.

Dalam pengumuman tersebut, panitia menyampaikan bahwa seluruh abstrak yang masuk telah melalui proses review yang ketat. Para peserta yang dinyatakan lolos berhak melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu pengumpulan full paper dan slide presentasi (PPT).

Sebanyak 50 karya ilmiah dari berbagai bidang, seperti Education and Teacher Training, Islamic Economic and Business, Sharia & Islamic Thought, hingga Ushuluddin and Philosophy, berhasil masuk dalam daftar nominee. Para penulis berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun luar negeri, menunjukkan tingginya antusiasme dan kualitas kontribusi dalam konferensi ini.

Panitia menetapkan batas akhir pengumpulan full paper dan PPT pada 30 April 2026. Seluruh peserta diwajibkan mengikuti template resmi yang telah disediakan guna menjaga konsistensi dan kualitas presentasi.

Ketua pelaksana dan sekretaris eksekutif konferensi menyampaikan harapan agar para nominee dapat memberikan kontribusi terbaiknya dalam forum ilmiah ini. Selain itu, peserta juga diminta untuk segera melakukan registrasi ulang melalui tautan resmi sebelum batas waktu yang ditentukan.

Konferensi ICIT 2026 diharapkan menjadi wadah strategis dalam pengembangan pemikiran Islam, khususnya dalam meningkatkan literasi keuangan syariah yang berkelanjutan di tengah tantangan global.

Klik untuk info selengkapnya <<disini>>

Categories
Blog

Batas Waktu Pengumpulan Abstrak ICIT 2026 Diperpanjang hingga 15 April

Pamekasan — Panitia The 2nd International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026 resmi mengumumkan perpanjangan batas waktu pengumpulan abstrak bagi para peserta. Kebijakan ini diambil seiring dengan meningkatnya jumlah partisipan yang menunjukkan minat untuk berkontribusi dalam konferensi internasional tersebut.

Konferensi yang mengangkat tema “Islamic Financial Literacy for Sustainable Development” ini sebelumnya menetapkan batas akhir pengumpulan abstrak pada jadwal awal. Namun, guna memberikan kesempatan yang lebih luas kepada akademisi, peneliti, dan praktisi, panitia memutuskan untuk memperpanjang tenggat waktu hingga 15 April 2026.

Panitia menyampaikan bahwa antusiasme peserta yang tinggi menjadi salah satu faktor utama di balik keputusan ini. Selain itu, perpanjangan ini diharapkan dapat memberikan waktu tambahan bagi calon peserta untuk mempersiapkan abstrak yang lebih berkualitas.

ICIT 2026 merupakan forum ilmiah internasional yang menghadirkan berbagai pembicara dari dalam dan luar negeri. Kegiatan ini juga membuka peluang bagi peserta untuk mempublikasikan hasil penelitian mereka pada jurnal-jurnal bereputasi.

Panitia mengimbau kepada seluruh calon peserta agar dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dan segera melakukan pengumpulan abstrak sebelum batas waktu yang telah ditentukan.

Untuk informasi lebih lanjut dan proses pendaftaran, peserta dapat mengakses laman resmi melalui tautan yang telah disediakan oleh panitia.

Categories
opini Tarbiyah

Puasa dan Self-Regulation dalam Membentuk Cara Berpikir Ilmiah

Pamekasan, Ramadhan sering dipahami sebagai ibadah yang berorientasi pada dimensi spiritual semata yaitu menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, sebagai dosen yang mengampu Mata Kuliah Pembelajaran IPA sekaligus mahasiswa S3 Pendidikan Sains, saya melihat puasa lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ia adalah proses pendidikan karakter yang sistematis, terutama dalam melatih pengendalian diri (self regulation), yang justru menjadi fondasi penting dalam membangun cara berpikir ilmiah.

Dalam pengalaman saya mengajar Pembelajaran IPA, sering kali saya mendapati mahasiswa lebih berorientasi pada hasil akhir dibandingkan proses ilmiah itu sendiri. Ketika melakukan simulasi praktikum atau merancang pembelajaran berbasis eksperimen, sebagian mahasiswa ingin segera mengetahui jawaban benar tanpa melalui tahapan pengamatan yang teliti. Mereka cenderung tergesa-gesa menyimpulkan sebelum data benar-benar dianalisis secara mendalam. Padahal, dalam sains, proses adalah inti dari pembelajaran.

Berpikir ilmiah bukan sekadar kemampuan memahami teori atau menghafal konsep. Ia mencakup sikap objektif, kesabaran dalam menguji hipotesis, ketelitian dalam mengumpulkan data, serta keberanian merevisi kesimpulan ketika ditemukan bukti baru. Semua itu membutuhkan pengendalian diri. Tanpa kemampuan mengatur dorongan untuk cepat selesai atau cepat benar, proses ilmiah dapat kehilangan maknanya.

Di sinilah saya menemukan relevansi mendalam antara puasa dan pendidikan sains. Puasa adalah latihan pengendalian diri yang nyata dan berulang. Setiap hari selama Ramadhan, seseorang melatih dirinya untuk menahan keinginan yang sebenarnya sah dilakukan di luar waktu puasa. Latihan ini melibatkan kesadaran internal, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan eksternal. Tidak ada pengawas yang memastikan seseorang benar-benar berpuasa selain dirinya sendiri dan Tuhan. Di situlah self regulation dibangun.

Dalam perspektif pendidikan, self regulation merujuk pada kemampuan individu untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilaku dalam mencapai tujuan tertentu. Mahasiswa yang memiliki self regulation yang baik mampu merencanakan strategi belajar, memantau kemajuan, dan mengevaluasi hasilnya secara mandiri. Dalam konteks pembelajaran IPA, kemampuan ini menjadi kunci untuk mengembangkan cara berpikir ilmiah yang matang.

Sebagai mahasiswa doktoral pendidikan sains, saya semakin menyadari bahwa proses penelitian ilmiah sangat bergantung pada pengendalian diri. Ketika menyusun rancangan penelitian, saya dituntut untuk tidak tergesa-gesa menentukan kesimpulan. Dalam analisis data, saya harus objektif meskipun hasilnya tidak selalu sesuai dengan hipotesis awal. Proses ini menuntut kesabaran, ketekunan, dan kejujuran yang merupakan nilai-nilai yang juga dilatih secara intensif dalam ibadah puasa.

Salah satu tantangan terbesar dalam berpikir ilmiah adalah mengendalikan bias pribadi. Setiap peneliti memiliki harapan terhadap hasil penelitiannya. Namun, sains menuntut objektivitas. Tanpa pengendalian diri, seseorang dapat dengan mudah memilih data yang mendukung pendapatnya dan mengabaikan data yang bertentangan. Puasa melatih kita untuk menahan dorongan spontan dan mengendalikan keinginan. Kemampuan ini sangat relevan dalam menjaga integritas ilmiah.

Selain itu, puasa mengajarkan kesabaran terhadap proses. Dari fajar hingga maghrib, seseorang menjalani latihan kontinuitas dan konsistensi. Tidak ada jalan pintas. Dalam pendidikan sains, proses eksperimen juga menuntut kesabaran yang sama. Percobaan bisa gagal, pengamatan bisa keliru, dan hipotesis bisa tidak terbukti. Tanpa kesabaran, mahasiswa mudah frustrasi dan kehilangan motivasi. Di sinilah nilai puasa memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya bertahan dalam proses.

Dalam kelas Pembelajaran IPA, saya mulai merefleksikan bagaimana nilai pengendalian diri dapat diintegrasikan dalam strategi pembelajaran. Misalnya, dengan memberi ruang lebih bagi mahasiswa untuk melakukan observasi mendalam, bukan sekadar mencari jawaban cepat. Saya juga mendorong mereka untuk melakukan refleksi setelah praktikum, mengevaluasi apa yang telah dipelajari dan apa yang perlu diperbaiki. Refleksi ini selaras dengan semangat muhasabah yang menjadi bagian dari Ramadhan.

Lebih jauh, puasa juga membangun disiplin waktu. Ritme sahur, berbuka, dan ibadah malam membentuk pola hidup yang teratur. Disiplin ini sangat penting dalam penelitian ilmiah yang memerlukan perencanaan sistematis dan konsistensi kerja. Berpikir ilmiah bukan aktivitas spontan, melainkan proses terstruktur yang membutuhkan komitmen jangka panjang.

Di tengah era digital yang serba cepat, budaya instan semakin menguat. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, jawaban tersedia hanya dengan satu klik. Tantangannya adalah bagaimana membangun generasi yang tidak hanya cepat mengakses informasi, tetapi juga mampu mengolahnya secara kritis dan bertanggung jawab. Self regulation menjadi kunci agar mahasiswa tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga pemikir yang reflektif.

Ramadhan menghadirkan momentum penting untuk merefleksikan kembali arah pendidikan sains. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan kedewasaan moral. Tanpa pengendalian diri, sains berisiko kehilangan orientasi etisnya. Sebaliknya, ketika self regulation menjadi bagian dari proses pembelajaran, maka sains akan berkembang sebagai sarana kemaslahatan.

Bagi saya pribadi, puasa bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga madrasah pembentukan karakter ilmiah. Ia mengajarkan bahwa proses lebih penting daripada sekadar hasil, bahwa kejujuran lebih utama daripada sekadar prestasi, dan bahwa kesabaran adalah syarat bagi lahirnya pemahaman yang mendalam. Nilai-nilai ini sejalan dengan hakikat pendidikan sains yang bertujuan membentuk individu yang mampu berpikir rasional sekaligus bertanggung jawab.

Pada akhirnya, puasa menunjukkan bahwa spiritualitas dan rasionalitas bukanlah dua wilayah yang bertentangan. Justru melalui latihan pengendalian diri, keduanya dapat saling menguatkan. Jika nilai self regulation yang dilatih selama Ramadhan benar-benar diinternalisasikan dalam pendidikan sains, maka kita tidak hanya melahirkan peserta didik yang cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara moral. Di sanalah puasa menemukan relevansinya sebagai fondasi cara berpikir ilmiah yang berintegritas dan bermartabat.**

**Oleh : Fitriyah Ika Astutik, M.Pd (Dosen Fakultas Tarbiyah IAI Al-Khairat Pamekasan)

Categories
Ebis ESY opini

Ramadan : Reorientasi Arah Marketing, Dari Hitung Untung Menuju Aksi Nyata

Pamekasan, Teman-teman pengusaha, coba kita jujur sebentar. Setiap kali buka usaha di pagi hari, apa yang pertama kali terlintas di pikiran?… “Target hari ini berapa?” atau “Atur diskon biar closing naik.” Pasti kita sibuk berpikir, konten mana yang bisa bikin orang checkout sekarang juga? Hmm…tidak salah. Kita semua hidup dari bisnis. Kita punya karyawan yang harus digaji, keluarga yang harus dinafkahi, dan cicilan yang kadang terasa lebih setia daripada pelanggan.

Tapi izinkan saya bertanya pelan-pelan: Bagaimana kalau justru pelanggan datang bukan karena kita pintar menjual, tapi karena kita tulus membantu? Inilah semangat stop selling, start helping.

Ramadhan setiap tahun mengajarkan kita satu hal yang sederhana tapi revolusioner, yaitu shadaqah. Islam telah mengajarkan dalam surat Al-Baqarah ayat 261 bahwa: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki…”, sedekah di bulan biasa saja dijanjikan balasan berlipat hingga 700 kali. Apalagi di bulan Ramadhan sebagaimana hadis Rasulullah saw “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Logikanya sederhana: memberi tidak pernah membuat kita miskin. Justru memberi membuka pintu rezeki yang tidak disangka-sangka.

Sekarang coba kita tarik ke dunia bisnis. Selama ini banyak UMKM terjebak pada pola “hitung untung”. Semua dihitung: biaya iklan, margin, conversion rate, bahkan like dan share pun dihitung, tidak salah sih!, tetapi kalau semuanya hanya tentang angka, bisnis bisa terasa kering. Kadang pelanggan itu bukan ingin diskon, mereka hanya ingin dipahami. Kadang mereka bukan ingin harga termurah, mereka ingin solusi yang jujur. Nah, di sinilah helping menjadi strategi marketing paling kuat.

Coba lihat bagaimana platform seperti Gojek berkembang. Awalnya bukan soal aplikasi canggih atau promosi besar-besaran. Ide dasarnya sederhana, yaitu membantu orang mendapatkan transportasi lebih mudah dan membantu driver mendapatkan penghasilan. Helping dulu, monetisasi menyusul. Tokopedia pun demikian, visi awalnya bukan bagaimana jadi unicorn, tetapi bagaimana membantu UMKM agar bisa menjual produknya tanpa harus punya toko fisik yang pasti mahal. Tokopedia menciptakan akses, membantu para pedagang dan produsen. Dan hasilnya? Market datang sendiri. Bahkan, Grab sukses bukan karena sekadar jual jasa transportasi, tetapi karena memudahkan kehidupan sehari-hari, mulai dari pesan makanan, kirim barang, atau bayar tagihan. Kehadiran platform dan aplikasi tersebut menjawab kebutuhan, bukan sekadar menawarkan produk.

Nah, kita para pelaku UMKM kadang sering terbalik. Kita bangun produk dulu, lalu memaksa pasar butuh. Padahal seharusnya kita berpikir untuk menganalisis masalah sehari-hari pelanggan, selanjutnya bisnis kita hadir sebagai solusi atas masalah yang nyata.

Saya pernah bercanda dengan seorang teman pengusaha, “Kalau postinganmu tiap hari cuma ‘BURUAN ORDER!!!’, lama-lama pelanggan bisa merasa seperti diteriaki di pasar.” Hehe…  Coba sesekali ubah pendekatan. Alih-alih: “Promo terakhir hari ini!” Coba kita tawarkan: “Teman-teman, kami tahu menjelang lebaran kebutuhan meningkat. Kalau ada yang butuh paket hemat atau bisa bayar bertahap, kabari ya. Kami bantu.” Kalimatnya sederhana. Tapi rasanya berbeda. Helping bukan berarti kita jadi lembaga sosial. Helping berarti kita menghadirkan empati dalam transaksi.

Di era digital, helping bisa diwujudkan dalam banyak cara, misalnya edukasi lewat konten yang jujur, memberikan tips gratis yang relevan, atau dalam wujud menjawab chat pelanggan dengan sabar (meski kadang pertanyaannya sama terus, he…), memberi solusi bahkan ketika itu tidak langsung menghasilkan penjualan. Percayalah, pelanggan yang merasa ditolong akan kembali. Lebih dari itu, mereka akan menjadi loyalis dan merekomendasikan. Itulah shadaqah (helping) dalam bisnis.

Shadaqah bukan hanya soal uang, ia bisa berupa waktu, perhatian, kejujuran, bahkan pelayanan yang tulus. Dalam perspektif spiritual, memberi membuka keberkahan. Dalam perspektif marketing modern, memberi (gift) dapat membangun trust. Dan trust adalah mata uang paling mahal di era digital.

Sekarang coba bayangkan, kalau setiap UMKM mengganti mindset dari “berapa saya dapat?” menjadi “apa yang bisa saya bantu?”, apa yang akan terjadi? Persaingan berubah menjadi kolaborasi. Pelanggan berubah menjadi komunitas. Transaksi berubah menjadi relasi. Dan menariknya, ketika helping menjadi budaya, hitung untung justru menjadi lebih mudah. Karena pelanggan tidak lagi membandingkan kita semata pada harga, tetapi pada rasa.

Ramadhan mengajarkan kita menahan diri; menahan lapar, menahan emosi, dan mungkin juga menahan ego bisnis yang ingin selalu menang sendiri. Justru di saat kita belajar memberi lebih dulu, Allah bukakan jalan dari arah yang tidak kita sangka. Bukankah itu yang sering kita dengar dalam kisah para pedagang yang jujur dan dermawan, al-rizqu min haytsu laa yahtasib?

Jadi teman-teman pengusaha, mungkin sudah waktunya kita melakukan reorientasi. Bukan berarti berhenti mencari untung, dan bukan berarti mengabaikan strategi. Tetapi menata ulang niat dan pendekatan, karena di era digital ini, algoritma mungkin bisa menaikkan traffic, akan tetapi hanya empati yang bisa menaikkan keberkahan. Mari kita jadikan Ramadhan bukan sekadar momentum diskon besar-besaran, tapi momentum transformasi cara berpikir. Dari hitung untung menuju aksi nyata. Dari hard selling menuju helping dan siapa tahu, justru ketika kita berhenti terlalu sibuk menjual, pelanggan malah sibuk mencari kita. Bukankah itu lebih indah?**

**Dr. Aang Kunaifi, SE., M.E.I

Kaprodi Ekonomi Syariah IAI Al-Khairat Pamekasan

Categories
Blog Ebis

62 Kampus Ikuti Diskusi Ilmiah Ramadan “Online Ngabuburit 1447 H”

Pamekasan, Kegiatan diskusi ilmiah bertajuk 5th Online Ngabuburit 1447 H kembali digelar pada Ramadan tahun ini. Forum akademik yang berlangsung secara daring ini dilaksanakan selama 17 Februari hingga 14 Maret 2026 dengan mengangkat tema “Ngabuburit Multidisiplin Ilmu, Kreativitas, dan Berkah: Dari Ruang Virtual Menuju Book Chapter.”

Program ini dilaksanakan oleh CV ODIS Olahdata Integra Solusindo bersama Yayasan Kharisma Venti Rahmawati sebagai ruang diskusi dan kolaborasi bagi akademisi, peneliti, serta praktisi dari berbagai disiplin ilmu. Kegiatan ini memanfaatkan waktu menjelang berbuka puasa untuk berbagi gagasan, pengalaman penelitian, serta perkembangan isu-isu keilmuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Selain diskusi ilmiah, kegiatan ini juga mendorong para peserta untuk mengembangkan gagasan yang dipresentasikan menjadi karya ilmiah dalam bentuk book chapter. Dengan demikian, ide-ide yang muncul dalam forum tersebut tidak hanya berhenti pada diskusi daring, tetapi dapat terdokumentasi secara akademik dan dimanfaatkan oleh khalayak yang lebih luas.

Forum ini mendapat dukungan dari sejumlah lembaga, di antaranya Yayasan Panti Asuhan Ngawi Al-Munawwarah, LSP Manisku, PT Pegadaian Area Madiun, Santri Institute Indonesia, serta PT ODIS Manajemen Indonesia.

Penyelenggara mencatat, kegiatan ini diikuti oleh 62 perguruan tinggi dan institusi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah UIN Sunan Ampel Surabaya, Binus University, Universitas Gunadarma, Universitas Terbuka, serta Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan.

Salah satu narasumber yang turut berpartisipasi dalam forum tersebut adalah Dr. Aang Kunaifi yang merupakan Kaprodi Ekonomi Syariah IAI Al-Khairat Pamekasan, yang menyampaikan materi berjudul Tipologi Gerakan Ekonomi Islam Indonesia. Dalam paparannya, ia membahas dinamika perkembangan gerakan ekonomi Islam di Indonesia, termasuk munculnya komunitas hijrah yang mulai terlibat dalam aktivitas kewirausahaan berbasis nilai-nilai Islam.

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan adanya potensi baru dalam pengembangan ekonomi syariah di tengah masyarakat.

“Saat ini kita melihat komunitas hijrah tidak hanya bergerak dalam aspek spiritual, tetapi juga mulai masuk ke wilayah ekonomi dan kewirausahaan. Jika dikelola dengan baik, potensi ini bisa menjadi bagian dari penguatan gerakan ekonomi Islam di Indonesia,” ujar Dr. Aang Kunaifi dalam forum diskusi tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan pemerintah menjadi faktor penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi Islam.

“Perlu ada ruang dialog yang terbuka antara akademisi, komunitas, dan pemangku kebijakan. Dengan begitu, gagasan yang muncul dari masyarakat bisa terhubung dengan pengembangan ekonomi syariah secara lebih luas,” pungkasnya.(vick)