Categories
Blog Ebis

Angkat Isu Literasi Keuangan Syariah Gen-Z, Linda Ayuni Raih Best Engagement ICIT 2026

Pamekasan – Mahasiswi Program Studi Islamic Economics semester 4 Linda Ayuni berhasil meraih penghargaan 1st Winner of Best Engagement dalam ajang The 2nd International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026 yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (5/5/2026).

Konferensi internasional tersebut mengangkat tema “Islamic Financial Literacy for Sustainable Development” dan diikuti sebanyak 258 peserta dari berbagai perguruan tinggi.

Linda Ayuni merupakan mahasiswi asal Desa Bulangan Barat, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan. Dalam kegiatan tersebut, ia tergabung di Room 4 dan mempresentasikan paper berjudul “Enhancing Islamic Financial Literacy Using Digital Platforms And Fintech Innovations Among Gen-Z.”

Penelitian yang dipresentasikan Linda bersama timnya menyoroti rendahnya tingkat literasi keuangan syariah di kalangan Generasi Z, meskipun kelompok tersebut dinilai aktif dan akrab dengan media digital serta teknologi finansial.

Dalam paparannya, tim peneliti menawarkan solusi melalui pemanfaatan platform digital dan inovasi fintech dengan menghadirkan konten edukasi terkait literasi keuangan Islam yang lebih interaktif dan mudah diakses generasi muda.

Usai mengikuti konferensi internasional tersebut, Linda mengaku sempat merasa gugup karena pengalaman tersebut merupakan kali pertama baginya tampil dalam forum akademik internasional.

“Pertama tama bersyukur dan bahagia banget bisa ikut event seru dan menegangkan ini. Alhamdulillah bisa tetap bertahan sampai akhir padahal awalnya pengen berhenti karena takut karena pengalaman pertama kali,” ujar Linda.

Ia menambahkan, rasa lega mulai dirasakan setelah sesi presentasi selesai dilaksanakan.

“Setelah melewati sesi presentasi, agak lega dan bahagia rasanya. Terharu banget bisa bertahan sampai selesai,” katanya.

Menurut Linda, isu literasi keuangan syariah di kalangan Gen-Z perlu mendapat perhatian lebih karena penggunaan layanan digital keuangan saat ini dinilai lebih tinggi dibanding tingkat pemahaman masyarakat terhadap konsep keuangan syariah itu sendiri.

“Gen-Z sudah aktif dan mahir menggunakan media digital, tetapi literasi atau pemahaman mereka tentang keuangan syariah masih minim. Penggunaannya lebih besar daripada pemahamannya,” ungkapnya.

Karena itu, ia dan tim peneliti mendorong penggunaan media digital dan fintech sebagai sarana edukasi keuangan syariah yang lebih efektif dan sesuai dengan karakter generasi muda.

“Dengan menghadirkan video atau konten edukasi tentang literasi keuangan Islam, pendekatan ini dinilai cocok untuk Gen-Z yang cepat, praktis, dan interaktif,”pungkasnya.(vick)

Categories
Blog

ICIT 2026 Selesai Digelar, Berikut Peserta Penerima Penghargaan Terbaik

Pamekasan – The 2nd International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026 sukses digelar secara daring melalui Zoom pada Selasa, 5 Mei 2026.

Konferensi internasional yang mengangkat tema “Islamic Financial Literacy for Sustainable Development” ini diikuti sebanyak 258 peserta dari berbagai negara, mulai dari akademisi, peneliti, dosen hingga mahasiswa.

Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi ilmiah terkait penguatan literasi keuangan syariah dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di tengah tantangan global yang terus berkembang. Berbagai topik dipresentasikan dalam konferensi ini, mulai dari ekonomi Islam, pendidikan, filantropi, hingga perkembangan teknologi dalam perspektif Islam.

Selain sesi pemaparan paper, panitia juga memberikan penghargaan kepada peserta terbaik dalam tiga kategori utama, yakni Best Presenter Award, Best Paper Award, dan Best Engagement Award. Penilaian dilakukan berdasarkan kualitas presentasi, kontribusi akademik, partisipasi aktif, serta keterlibatan peserta selama konferensi berlangsung.

Pada kategori Best Presenter Award, juara pertama diraih oleh Ika Yunia Fauzia bersama tim kolaborasi lintas universitas Indonesia dan Mesir melalui paper berjudul “The Maqashid Sharia Approach on the Ontology of Islamic Green Economy”. Posisi kedua ditempati Musa Al Kadzim dari UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dengan karya ilmiah tentang keadilan ekonomi dalam feminisme Islam. Sementara juara ketiga diraih Badik Santoso dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung melalui penelitian mengenai tantangan implementasi penjaminan mutu pendidikan madrasah.

Sementara itu, pada kategori Best Paper Award, penghargaan terbaik berhasil diraih Mohd. Huefiros Efizi bin Husain bersama tim dari Malaysia dan Indonesia melalui paper yang membahas penetapan upah minimum berdasarkan perspektif maqasid syariah di Malaysia dan Indonesia. Juara kedua diraih Piet Hizbullah Khaidir dari STIQSI Lamongan dengan kajian mengenai otoritas keagamaan tradisional dan kecerdasan buatan di era post-truth. Sedangkan posisi ketiga ditempati Ni’mal Chala dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung melalui riset inovasi filantropi Islam berbasis budaya pesantren dalam memperkuat literasi keuangan madrasah.

Pada kategori Best Engagement Award, juara pertama diraih Linda Ayuni dari Prodi Ekonomi Syariah IAI Al-Khairat Pamekasan melalui paper tentang pemanfaatan platform digital dan inovasi fintech untuk meningkatkan literasi keuangan syariah generasi Z. Posisi kedua diraih Rasyidin dari STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan. Adapun juara ketiga diraih Shariar Hasan dari University of Science and Technology Chittagong dengan penelitian mengenai hubungan pemikiran Islam dan Sustainable Development Goals (SDGs) di Bangladesh.

Ketua Panitia ICIT 2026, Dr. Aang Kunaifi, mengaku bersyukur konferensi internasional tersebut berjalan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta berbagai negara. Menurutnya, ICIT 2026 bukan sekadar agenda akademik tahunan, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk mempertemukan berbagai gagasan dan pemikiran Islam yang relevan dengan perkembangan zaman.

“ICIT 2026 bukan hanya forum akademik biasa, tetapi menjadi ruang kolaborasi internasional dalam membangun pemikiran Islam yang relevan dengan tantangan zaman. Kami sangat bersyukur karena konferensi ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta berbagai negara,” ujarnya.

Ia berharap hasil diskusi dan penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan literasi keuangan syariah dan pembangunan berkelanjutan di masa depan.

“Kami berharap ICIT 2026 dapat melahirkan gagasan-gagasan baru, memperkuat jejaring akademik internasional, serta menjadi inspirasi dalam pengembangan pemikiran Islam yang adaptif terhadap tantangan global,” tambahnya.(vick)

Categories
Blog

ICIT 2026 Libatkan 105 Penulis dari Berbagai Negara, Bahas Literasi Keuangan Syariah

Pamekasan – The 2nd International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026 yang mengusung tema “Islamic Financial Literacy for Sustainable Development” sukses digelar pada Selasa, 5 Mei 2026 secara daring melalui Zoom. Kegiatan ini menghadirkan pembicara internasional serta ratusan peserta dari berbagai negara.

Konferensi ini dibuka dengan sambutan dari Rektor IAI Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, M.S.I, serta Roeland Monasch selaku CEO Aflatoun International. Acara juga menghadirkan MC Ya-Ling Chao selaku Aflatoun Regional Program Manager – Asia-Pasific dan dimoderatori oleh Dr. Clarashinta Canggih, S.E., CIFP, Assisten Professor at Islamic Economics Program.

Sejumlah keynote speaker turut meramaikan forum ilmiah ini, di antaranya : Dr. Khairunnisa Musari, Associate International dari Iranian Association of Islamic Finance (IAIF), Indonesia. Dr. Ghadeer Ahmad Khalil, Assistant Professor, Zarqa Private University, Yordania. Zunara Nauman, Education Technical Specialist, Aflatoun International. Nancy Abu Hanyyaneh, Regional Program Manager Aflatoun untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Ketua Panitia, Dr. Aang Kunaifi, M.E.I, menyampaikan bahwa antusiasme peserta dalam konferensi ini sangat tinggi. Para peserta mengikuti rangkaian acara sejak pukul 10.00 hingga 16.00 WIB dengan penuh semangat.

“Antusiasme para peserta luar biasa. Mereka mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir dengan sangat aktif,” ujarnya.

Sebagai host, LekDis Nusantara yang merupakan NGO underbouw Aflatoun International menyampaikan apresiasi atas kesuksesan acara ini. Suryadi selaku perwakilan menyebut ICIT 2026 sebagai ajang kolaborasi global yang membanggakan.

“Kami sangat mengapresiasi kesuksesan acara ini dan berharap dapat terus bekerja sama dalam penyelenggaraan ICIT berikutnya,” katanya.

Senada dengan itu, Sekretaris IAEI DPW Jawa Timur, Khairunnisa Musari yang juga menjadi keynote speaker, mengaku bahagia dapat terlibat dalam kegiatan ini. Menurutnya, ICIT 2026 tidak hanya menjadi ruang berbagi ilmu, tetapi juga memperkuat jejaring internasional.

“Selain berbagi dengan pembicara dan peserta internasional terkait keuangan syariah, event ini juga menjadi sarana silaturahmi dan penyamaan visi di bidang ekonomi Islam. Kami siap untuk terus berkolaborasi dalam event selanjutnya bersama Al-Khairat dan Aflatoun,” ungkap Musari.

Dalam sesi paralel, panitia mencatat terdapat 105 penulis yang terlibat dengan total 65 paper yang dipresentasikan dalam empat ruang berbeda. Peserta berasal dari berbagai negara, termasuk Pakistan, Bangladesh, dan Malaysia.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia juga memberikan penghargaan kepada para peserta terbaik, meliputi tiga kategori Best Presenter, tiga kategori Best Paper, dan tiga tim penulis kategori Best Engagement. Nama-nama pemenang akan diumumkan secara resmi pada Jumat, 8 Mei 2026 melalui website IAI Al-Khairat.

Konferensi ini juga membuka peluang publikasi bagi paper yang diterima di sejumlah jurnal bereputasi, seperti Sinta 2 hingga jurnal internasional. (vick)

Categories
Blog Ebis ESY Tarbiyah Ushuluddin

258 Peserta Ikuti ICIT 2026 Secara Daring, Soroti Literasi Keuangan Syariah

Pamekasan – Konferensi internasional The 2nd International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026 sukses diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Selasa, 5 Mei 2026. Mengusung tema Islamic Financial Literacy for Sustainable Development, kegiatan ini diikuti sebanyak 258 peserta dari berbagai negara.

Konferensi ini merupakan kolaborasi antara Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan dan Aflatoun International bersama sejumlah mitra lainnya.

Konferensi ini menghadirkan sejumlah keynote speaker dari berbagai negara dan institusi, yakni: Dr. Khairunnisa Musari, Associate International dari Iranian Association of Islamic Finance (IAIF), Indonesia. Dr. Ghadeer Ahmad Khalil, Assistant Professor, Zarqa Private University, Yordania. Zunara Nauman, Education Technical Specialist, Aflatoun International. Nancy Abu Hanyyaneh, Regional Program Manager Aflatoun untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sambutan pembuka disampaikan CEO Aflatoun International, Roeland Monasch. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa tantangan terbesar dalam pendidikan keuangan saat ini bukan hanya soal akses, tetapi juga bagaimana pendidikan tersebut relevan dengan latar belakang sosial, budaya, dan nilai yang dianut peserta didik.

Menurut Roeland, pendekatan inklusif menjadi kunci agar pendidikan benar-benar berdampak luas dan berkelanjutan.

“Agar pendidikan sosial dan keuangan benar-benar bersifat transformatif, maka pendidikan tersebut harus inklusif. Inklusivitas berarti mampu mengakomodasi nilai-nilai, keyakinan, serta berbagai situasi sosial, ekonomi, dan budaya yang spesifik,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menyoroti realitas yang dihadapi generasi muda, khususnya di komunitas Muslim, yang membutuhkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya terbuka, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai yang mereka yakini.

“Kami menyadari bahwa bagi jutaan anak muda—terutama di komunitas Muslim—mereka membutuhkan lebih dari sekadar akses. Mereka juga membutuhkan keselarasan dengan nilai-nilai yang mereka yakini,” ungkapnya.

Dalam konteks itu, penyelenggaraan ICIT dinilai menjadi contoh konkret bagaimana pendekatan tersebut bisa diwujudkan dalam praktik.

“Acara ICIT hari ini merupakan contoh nyata bagaimana kita dapat menyelaraskan alat-alat keuangan praktis dengan prinsip dan keyakinan etis,” pungkasnya.

Selannjutnya, Rektor Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan, Dr. Ali Ridho, dalam sambutannya menekankan bahwa konferensi ini tidak hanya menjadi ajang akademik, tetapi juga ruang strategis untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi lintas negara dalam pengembangan keuangan syariah.

Menurutnya, terselenggaranya kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama dalam mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman di tingkat global.

“Kami bersyukur konferensi internasional di bidang keuangan syariah ini dapat terselenggara dengan lancar. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi strategis sekaligus wadah penting untuk berbagi pengetahuan, hasil riset, dan pengalaman di tingkat global,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mengembangkan keuangan syariah tidak hanya sebagai disiplin ilmu, tetapi juga sebagai praktik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“IAI Al-Khairat Pamekasan berkomitmen mendukung pengembangan keuangan syariah melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Keuangan syariah bukan hanya kajian akademik, tetapi juga sistem praktis yang menjunjung tinggi prinsip keadilan, transparansi, dan kesejahteraan sosial,” ungkapnya.

Selain itu, penguatan literasi keuangan syariah di kalangan mahasiswa juga menjadi perhatian utama, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.

“Melalui berbagai program akademik dan kolaborasi, kami berupaya membekali mahasiswa dengan pemahaman teoritis sekaligus keterampilan praktis di bidang keuangan syariah,” pungkasnya.

Pada sesi penutupan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan, Dr. H. Mawardi, menyoroti pentingnya peran lembaga pendidikan Islam dalam membangun pemahaman ekonomi syariah yang komprehensif di kalangan generasi muda.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang internalisasi nilai-nilai ekonomi Islam yang berkeadilan dan berorientasi pada kesejahteraan.

“Lembaga pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman generasi muda terhadap prinsip ekonomi Islam yang menjunjung keadilan, transparansi, dan kesejahteraan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa penguatan literasi keuangan syariah perlu diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan pendidikan.

“Penguatan literasi keuangan syariah tidak boleh berhenti pada aspek teoritis, tetapi harus diwujudkan dalam praktik di lingkungan pendidikan,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, ia berharap hasil konferensi ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengambilan kebijakan di masa depan.

“Berbagai perspektif, hasil riset, serta rekomendasi dari konferensi ini dapat menjadi masukan berharga bagi Kementerian Agama,” pungkasnya. (vick)

 

Categories
Blog

Batas Waktu Pengumpulan Abstrak ICIT 2026 Diperpanjang hingga 15 April

Pamekasan — Panitia The 2nd International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026 resmi mengumumkan perpanjangan batas waktu pengumpulan abstrak bagi para peserta. Kebijakan ini diambil seiring dengan meningkatnya jumlah partisipan yang menunjukkan minat untuk berkontribusi dalam konferensi internasional tersebut.

Konferensi yang mengangkat tema “Islamic Financial Literacy for Sustainable Development” ini sebelumnya menetapkan batas akhir pengumpulan abstrak pada jadwal awal. Namun, guna memberikan kesempatan yang lebih luas kepada akademisi, peneliti, dan praktisi, panitia memutuskan untuk memperpanjang tenggat waktu hingga 15 April 2026.

Panitia menyampaikan bahwa antusiasme peserta yang tinggi menjadi salah satu faktor utama di balik keputusan ini. Selain itu, perpanjangan ini diharapkan dapat memberikan waktu tambahan bagi calon peserta untuk mempersiapkan abstrak yang lebih berkualitas.

ICIT 2026 merupakan forum ilmiah internasional yang menghadirkan berbagai pembicara dari dalam dan luar negeri. Kegiatan ini juga membuka peluang bagi peserta untuk mempublikasikan hasil penelitian mereka pada jurnal-jurnal bereputasi.

Panitia mengimbau kepada seluruh calon peserta agar dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dan segera melakukan pengumpulan abstrak sebelum batas waktu yang telah ditentukan.

Untuk informasi lebih lanjut dan proses pendaftaran, peserta dapat mengakses laman resmi melalui tautan yang telah disediakan oleh panitia.